~SEMOGA BERMANFAAT BAGI TEMAN-TEMAN YANG YANG SEPROFESI~

Rabu, 23 Maret 2011

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG DISMENORHEA DENGAN SIKAP PENANGANAN DISMENORHEA PRIMER

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap bulan secara periodik, seorang wanita normal akan mengalami peristiwa reproduksi yang disebut menstruasi yaitu meluruhnya jaringan endometrium karena tidak adanya telur matang yang dibuahi oleh sperma. Peristiwa itu wajar dan alami sehingga dapat dipastikan bahwa semua wanita yang normal pasti akan mengalami proses itu, akan tetapi pada kenyataannya banyak wanita yang mengalami masalah menstruasi, diantaranya adalah nyeri haid (Dismenorhea). Beberapa tahun yang lalu, nyeri haid (Dismenorhea) hanya dianggap sebagai penyakit psikosomatis. Akan tetapi, karena keterbukaan informasi dan pesatnya ilmu pengetahuan berkembang, nyeri haid (Dismenorhea) mulai banyak dibahas. Banyak ahli yang telah menyumbangkan pikiran dan temuanya untuk mengatasi nyeri haid (Dismenorhea) ( Abdillah, 2005).

Dahulu wanita yang menderita nyeri haid hanya bisa menyembunyikan rasa sakitnya tanpa mengetahui apa yang harus dilakukannya dan kemana mereka harus mengadu. Keadaan itu diperburuk oleh orang disekitar mereka yang menganggap bahwa nyeri haid adalah rasa sakit yang wajar yang terlalu dibesar - besarkan dan dibuat - buat oleh wanita bahkan beberapa orang menganggap bahwa wanita yang mengalami nyeri haid hanyalah wanita yang mencari perhatian atau kurang diperhatikan. Anggapan seperti ini sudah mulai hilang beberapa tahun yang lalu. Sekarang baru diketahui bahwa nyeri haid adalah kondisi medis yang nyata diderita wanita. Banyak metode yang telah dikembangkan oleh ahli dibidangnya yang bertujuan untuk mengatasi nyeri haid.
Selama haid, dismenorhea juga bervariasi kekuatanya di setiap perempuan, kadang biasa saja, kadang sampai mengganggu aktivitas atau tidak tertahankan sehingga perlu minum obat pengurang rasa nyeri. Namun, kadang nyeri haid juga ditimbulkan oleh beberapa penyakit misalnya endometriosis, infeksi jalan lahir / panggul, atau kista di ovarium. Untuk nyeri haid yang normal, keluhan tersebut dapat di atasi dengan berbagai macam cara. Dimulai dengan menggunakan kompres handuk / botol hangat di atas perut atau mandi hangat. Obat-obatan yang dijual bebas di pasaran juga dapat digunakan secara hati-hati untuk mengurangi rasa nyeri haid yang berlebihan ( Abdillah, 2005 ).
Dismenorhea (nyeri haid) merupakan salah satu masalah paling umum dialami wanita dari berbagai tingkat usia. Diperkirakan 20 % wanita Amerika kehilangan 1,7 juta hari kerja setiap bulan akibat dismenorhe. Penelitian di Swedia menjumpai 30% wanita pekerja industri menurun penghasilanya karena rasa nyeri haid. Oleh karena itu hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak diperut bagian bawah sebelum dan selama haid dan sering kali disertai rasa mual. Maka istilah dismenorhea hanya dipakai jika nyeri haid demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk beberapa jam atau beberapa hari (Abdilllah, 2005).
Di Indonesia angka kejadian dismenorhea belum ada, namun hasil penelitian di Surabaya didapatkan 1,07%-1,31% dari jumlah penderita yang datang kebagian kebidanan untuk memeriksakan nyeri haid yang diderita setiap kali menstruasi. Dari penelitian tahun 2002 di 4 SLTP di Jakarta yang dilakukan oleh salah satu pakar kesehatan Obstetri dan Ginekologi didapatkan sekitar 74,1% siswi mengalami nyeri haid ringan sampai berat ( Abdillah, 2005 ).
Hasil yang diperoleh dari studi pendahuluan pada tanggal 11 Maret 2010 di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember, dari 96 siswi yang diambil dari siswi kelas 2, ternyata ada 66 siswi (68,75 %) yang mengalami nyeri haid. Kebanyakan dari remaja putri mengatasi dismenorhea (nyeri haid) dengan mengkonsumsi jamu tradisional seperti kunyit asam.
Pengetahuan dan sikap seharusnya berjalan sinergis karena terbentuknya perilaku baru akan dimulai dari domain kognitif atau pengetahuan yang selanjutnya akan menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap dan akan dibuktikan dengan adanya tindakan, perilaku atau praktek agar hasil dan tujuan menjadi optimal sesuai yang diharapkan, akan tetapi pengetahuan dan sikap tidak selalu akan diikuti oleh adanya tindakan atau perilaku (Notoatmodjo, 2002 : 132).
Berdasarkan fenomena di atas, peneliti ingin mengetahui hubungan besar tingkat pengetahuan remaja putri tentang Dismenorhea dengan sikap penanganan Dismenorhea primer.



1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Adakah Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII tentang Dismenorhea dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer di SMPN I Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII tentang Dismenorhea dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer di SMPN I Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.
Tujuan Khusus
Mengidentifikasi Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII tentang Dismenorhea di SMPN I Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010
Mengidentifikasi sikap penanganan remaja putri kelas VIII terhadap Dismenorhea primer di SMPN 1 Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.
Menganalisa hubungan antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII tentang Dismenorhea dengan sikap Penanganan Dismenorhea Primer di SMPN I Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.

1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1.4.1 Manfaat Teoritis
Untuk membuktikan secara empiris Adakah Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII tentang Dismenorhea dengan upaya Penanganan Dismenorhea Primer.
1.4.2 Manfaat Praktis
1.4.1 Bagi Tempat Penelitian
Memberikan informasi agar bisa memberikan tindakan lanjutan berdasarkan penelitian yang dilakukan.
1.4.2 Bagi Remaja
Meningkatkan pengetahuan remaja tentang pengertian, penyebab, tanda gejala, dan penanganan dismenorhea.
1.4.3 Bagi Masyarakat
Sebagai tambahan informasi kesehatan khususnya masyarakat yang mengalami dismenorhea pada saat menstruasi.
1.4.4 Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman sendiri serta mendapatkan jawaban tentang hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang dismenorhea dengan sikap penanganan dismenorhea primer yang telah diteliti.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengetahuan
2.1.1 Pengertian Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab “what” sedangkan ilmu (sciense) bukan sekedar menjawab “what” melainkan akan menjawab pertanyaan “why” dan “how.
Menurut Muhibbinsyah (2001), isi pengetahuan itu sendiri berupa konsep-konsep dan fakta yang dapat di tularkan kepada orang lain melalui ekspresi tulisan atau lisan.
2.1.2 Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah di pelajari sebelumnya termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.


2. Memahami ( Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham akan objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramal, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dalam konteks atau situasi lain.
4. Analisis (Analisys)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyunsun informasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluasion)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang telah ada.
2.1.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmojo (2003), berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang suatu hal.
2.1.3.1 Faktor Internal
a. Umur
Semakin tua umur seseorang maka proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur-umur tertentu bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun. Dari uraian di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa dengan bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada bertambahnya pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi akan menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang.
b. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Jadi pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan.



2.1.3.2 Faktor Eksternal
a. Informasi
Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang meskipun seseorang mempunyai pendidikan yang rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media, misalnya : TV, Radio, Surat kabar. Hal ini akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.
b. Lingkungan
Lingkungan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang memberikan pengaruh sosial terutama bagi seseorang dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya.
c. Sosial Budaya
Sosial budaya merupakan salah satu yang mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungan dengan orang lain karena hubungan ini seseorang mengalami proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan.
d. Pengalaman
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, suatu cara untuk kebenaran pengetahuan, hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang telah diperoleh dengan memecahkan masalah yang dihadapi pada masa lalu.


2.1.4 Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto ( 2002 ) tingkat pengetahuan di bagi menjadi tiga yaitu:
1. Tingkat pengetahuan baik
Tingkat pengetahuan baik adalah tingkat pengetahuan dimana seseorang mampu mengetahui, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi. Tingkat pengetahuan dapat dikatakan baik jika seseorang mempunyai 76% - 100% pengetahuan.
2. Tingkat pengetahuan cukup
Tingkat pengetahuan cukup adalah tingkat pengetahuan dimana seseorang mengetahui, memahami, tetapi kurang mengaplikasi, menganalisis, mengintesis dan mengevaluasi. Tingkat pengetahuan dapat dikatakan sedang jika seseorang mempunyai 56% - < 76% pengetahuan.
3. Tingkat pengetahuan kurang
Tingkat pengetahuan kurang adalah tingkat pengetahuan dimana seseorang kurang mampu mengetahui, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi. Tingkat pengetahuan dapat dikatakan kurang jika seseorang mempunyai <56% pengetahuan.
2.1.5 Cara memperoleh pengetahuan
2.1.5.1 Cara tradisional atau non ilmiah
Diperoleh untuk memperoleh kebenaran pengetahuan cara ini meliputi:

a. Cara coba salah (Trial and Error)
Cara paling tradisional yang digunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan berbagai masalah dan bila kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
b. Cara kekuasaan atau otoritas
Yaitu pengetahuan yang diperoleh otoritas atau kepuasan baik tradisi, otoritas pemerintah, agama, maupun ahli ilmu kebenarannya berdasarkan fakta atau berdasarkan penalaran sendiri.
Metode ini berpendapat bahwa pemegang otoritas seperti pemimpin pemerintah, tokoh agama, maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama di dalam penemuan pengetahuan sehingga orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri
c. Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Kemampuan untuk menyimpulkan pengetahuan, aturan dan membuat prediksi berdasarkan observasi adalah penting untuk pola penalaran manusia. Upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masa lalu.
2.1.5.2 Cara modern atau cara ilmiah
Pendekatan yang paling tepat untuk materi suatu kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistematis serta dapat mengumpulkan dan menganalisa data yang didasarkan pada prinsip rehabilitas dan reabilitas. Perlu adanya kombinasi yang logis dengan mendekatkan induktif maupun deduktif mampu menciptakan suatu pemecahan masalah lebih akurat dan tepat. Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan lebih sistematis, logis dan ilmiah. ( Notoatmodjo, 2003 : 132 )

2.2 Dismenorhea
2.2.1 Pengertian Dismenorhea
Dismenorhea (nyeri haid) adalah suatu ciri-ciri siklus ovulasi dan biasanya timbul pada 12 bulan menarche ( Manuaba, 2001 : 402 ).
Dismenorhea adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim yang terjadi selama menstruasi ( Prawirohardjo, 2005 : 45 ).
2.2.2 Macam-macam Dismenorhea
2.2.2.1 Dismenorhea Primer
Menurut Manuaba (2001), Dismenorhea Primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan organ reproduksi (tanpa kelainan ginekologi). Dismenorhea terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulatoar yang tidak disertai rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama-sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun dalam beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat rasa nyeri ialah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menjalar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas, dan sebagainya.
1) Etiologi Dismenorhea Primer
Menurut Prawirohardjo (2005), Banyak teori yang telah dikemukakan untuk menerangkan penyebab dismenorhea primer, tetapi patofisiologinya belum jelas dimengerti. Ternyata beberapa faktor dianggap berperan sebagai penyebab dismenorhea primer, antara lain :
a. Faktor Kejiwaan
b. Faktor konstitusi
c. Faktor obstruksi kanalis servikalis
d. Faktor endokrin dan
e. Faktor alergi
2) Beberapa penanganan / cara untuk mengurangi keluhan nyeri ringan, yaitu :
a. Mengurangi konsumsi kopi.
b. Tidak merokok maupun minum alkohol.
c. Mengurangi konsumsi garam dan memperbanyak minum air putih.
d. Mengkonsumsi makanan tinggi kalsium, karena kalsium diduga dapat meringankan kram.
e. Memperbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran.
f. Suhu panas dapat memperingan keluhan. Lakukan pengompresan dengan handuk panas atau botol air panas pada perut atau punggung bawah atau mandi dengan air hangat.
g. Olahraga mampu meningkatkan produksi endorphin otak yang dapat menurunkan stress sehingga secara tidak langsung juga mengurangi nyeri.
h. Beberapa posisi senam dapat menghilangkan kram, salah satunya peregangan kucing, yang berupa posisi merangkak, kemudian mengangkat punggung ke atas setinggi-tingginya. Posisi lainnya adalah berbaring dengan lutut ditekuk, kemudian angkat panggul dan bokong, bisa juga dengan posisi janin, yaitu menarik lutut ke arah dada sambil memeluk bantal atau botol berisis air hangat di perut.
i. Melakukan aktivitas sehari-hari yang ringan juga membantu melupakan rasa sakit.
j. Cukup tidur, karena kurang tidur menyebabkan kelelahan sehingga lebih sensitive terhadap sakit.
k. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan obat pereda nyeri yang banyak beredar, misalnya aspirin.
2.2.2.2 Dismenorhea Skunder
Dsimenorhea Skunder : Nyeri haid yang terjadi karena kelainan ginekologi. Misalnya : Endometritis, Fibroids, Adenomyosis, peradangan tuba falopii, perlengketan abnormal antara organ dalam perut dan pemakaian IUD.

2.2.3 Etiologi Dismenorhea
Menurut Yatim Faisal (2001) etiologi dismenorhea sebagai berikut :
2.2.3.1 Hiperaktifitas Otot Uterus
Bila endometrium mengalami kerusakan pada saat haid, prostaglandin diproduksi dari asam arakidonat melalui aksi dari enzim prostaglandin sintetase. Nyeri berasal dari aktivitas uterus yang abnormal, iskemia uterus, dan sensitas ujung-ujung syaraf oleh prostaglandin dan lanjutan-lanjutannya.
2.2.3.2 Faktor-Faktor Psikogenik
Stress emosional dan ketegangan yang dihubungkan dengan sekolah atau pekerjaan memperjelas beratnya nyeri.
2.2.3.3 Anomall Uterus Congenital
Suatu kantong buntu dari uterus dapat dibatasi dengan endometrium yang melingkar dan tahan. Karena tidak ada jalan keluar, cairan haid menyebabkan kavum uteri membengkak yang mengakibatkan nyeri hebat. Pada pemeriksaan pelvis uterus terasa ireguler. kadang-kadang sebuah lekukan dapat dilihat pada vagina dimana serviks yang tidak sempurna berakhir. Nyeri cenderung bersifat kolik, dimulai dekat menarche dan timbul kearah akhir pada saat mulai keluarnya darah.
2.2.3.4 Leiomioma Submukosa
Haid yang banyak dan nyeri dapat disebabkan oleh kontraksi-kontraksi uterus sebagai usaha utuk mengeluarkan leiomioma submukosa.



2.2.3.5 Polip Intrauterin atau Intrasevikal
Uterus dapat menadakan respon terhadap polip karena merupakan suatu benda asing dan berkontraksi dengan kuat sebagai usaha untuk mengeluarkan polip.
2.2.3.6 Adenomiosis
Uterus mungkin sedikit membesar.
2.2.3.7 Infeksi Pelvis Akut dan Kronik
Meskipun nyeri pelvis dapat terjadi setiap saat selama siklus haid, beberapa pasien melaporkan eksaserbasi nyeri pada saat-saat haid.
2.2.3.8 Stenosis Servikalis
Obstruksi dari aliran darah haid menyebabkan nyeri kolik yang hebat.
2.2.3.9 AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
Alat kontrasepsi dalam rahim dapat menstimulasi kontraksi uterus dan menyebabkan nyeri.
2.2.4 Manifestasi Klinis Dismenorhea
Nyeri abdomen dapat mulai beberapa jam sampai 1 hari mendahului keluarnya darah haid. Nyeri biasanya paling kuat sekitar 12 jam setelah mulai timbul keluarnya darah, saat pelepasan endometrium maksimal. Nyeri dapat juga meliputi daerah lumbosakral dan bagian dalam dan anterior paha daerah inervasi syaraf ovarian dan uterus yang dialihkan ke permukaan tubuh. Biasanya nyeri hanya menetap sepanjang hari pertama haid, tetapi nyeri dapat menetap sepanjang keseluruhan siklus haid. Nyeri dapat demikian hebat sehingga pasien memerlukan pengobatan darurat.

2.2.5 Gejala-gejala Dismenorhea
Haid biasanya teratur, jumlah dan lamanya perdarahan bervariasi. Banyak pasien menghubungkan nyeri dengan pasase darah atau campakkan endometrium. Nyeri pada perut bagian bawah yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang timbul atau sebagai tumpul yang terus menerus ada.
Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenorhea juga sering disertai sakit kapala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah. Gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh peningkatan prostaglandin yang beredar merangsang hiperaktivitas otot polos usus.
2.2.6 Penanganan Dismenorhea
2.2.6.1 Obat-obatan
NSAID (Non-Steroidal Anti Imflammaory Drugs) sangat efektif dalam pengobatan dismenorhea. Contoh yang paling khas antara lain adalah ibu profen (400 mg setiap 6 jam), natrium napriksen (275 mg setiap 6 jam), dan asam mefenamat (500 mg setiap 6 jam). Beberapa dokter memberikan resep pil KB untuk meredakan dismenorhea, tetapi hal itu tidak dianggap sebagai penggunaan yang tepat. Namun, hal itu dapat menjadi pengobatan yang sesuai bagi wanita yang ingin menggunakan alat KB berupa pil. Pil kontrasepsi oral (OCP) mengurangi aliran darah haid dan manghambat ovulasi dan merupakan terapi yang efektif untuk dimenorhea.

2.2.6.2 Alternatif atau Pengobatan Tambahan
a) Istirahat yang cukup
b) Olahraga yang teratur ( terutama berjalan)
c) Pemijatan
d) Yoga
e) Aroma terapi
f) Kompres air hangat di daerah perut, dll
2.2.7 Skala Nyeri Dismenorhea 0-10
Skala 0 : Tidak ada nyeri
Skala 1-4 : Nyeri ringan
Skala 5 : Nyeri sedang, nyeri yang menekan dan mengganggu.
Skala 6 : Rasa nyeri yang berdenyut, kejang dan tumpul, tidak enak badan dan perih sekali
Skala 7 : Nyeri yang dapat dilukiskan dengan rasa remuk, rasa seperti diperas, tikaman tajam menusuk dan panas.
Skala 8-9 : Nyeri yang sangat sehingga tidak dapat melakukan aktifitas ringan atau memerlukan bantuan orang lain
Skala 10 : Nyeri yang tidak terkontrol, nyeri yang hebat dan tidak ada bandinganya yang mana tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata rasanya seperti terkena anak panah atau pisau. Menurut Nusdwinuringtyas ( 2009 ), kriteria nyeri sebagai berikut:
0 : Tidak ada nyeri
0-4 : Nyeri ringan
5-7 : Nyeri sedang
8-10 : Nyeri berat

2.3 Remaja
2.3.1 Definisi Remaja
Menurut Hurlock (1991) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Santrock (2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Sedang WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja (Wirawan, 2007).
Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek. Menurut Indrasari, Wenita (2004) Istilah asing yang sering digunakan menunjukkan masa remaja yang di kutip. Antara lain :
a. Pubertas, puberty (Bahasa inggris) berasal dari bahasa lain yang berarti kelaki-lakian, kedewasaan yang ditandai oleh sifat dan tanda-tanda laki-laki. Pubescence berasal dari kata pubis yang berarti rambut pada daerah kemaluan. Maka pubescence berarti perubahhan yang di barengi dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan.
b. Adolescentia berasal dari istilah lain yang berarti masa muda, jadi adolescentia adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial, secara kronologis yang tergolong remaja ini berkisar antara usia 11-12 tahun .
Perundang-undangan masa puber atau masa remaja didefinisikan sebagai masa antara usia belasan tahun sampai masa dewasa, tetapi secara medis dapat didefinisikan sebagai masa dimulainya siklus menstruasi pertama sampai berhentinya pertumbuhan tulang. Sedangkan masa remaja dapat didefinisikan sebagai masa sejak puber sampai saat dimana anak itu telah mencapai kedewasaan baik psikologis, seksual, maupun physiologis. (Narenda, 2002 : 88).
2.3.2 Perubahan-perubahan Fisik Pada Remaja Putri
Menurut Wirawan (2007), perubahan fisik remaja putri sebagai berikut:
a. Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang.
b. Perubahan payudara sudah terlihat, ketika anak perempuan berusia 8-14 tahun yang semakin membesar bersamaan dengan pertumbuhan rambut.
c. Tumbuh bulu yang halus dan lurus kemudian menjadi kriting dan berwarna gelap dikemaluan.
d. Datangnya menstruasi.
e. Tumbuhnya bulu-bulu halus pada ketiak.
f. Bulu kemaluan menjadi keriting.
2.3.3 Tahap Perkembangan Remaja
Menurut Wirawan (2007), adapun tahap-tahap perkembangan remaja adalah sebagai berikut:
2.3.3.1 Remaja Awal
a. Heran akan perubahan tubuh
b. Mengembangkan pikiran baru
c. Cepat tertarik dengan lawan jenis
d. Mudah terangsang secara erotik
2.3.3.2 Remaja Madya
a. Membutuhkan banyak kawan
b. Lebih mencintai diri sendiri
c. Bingung menentukan pilihan
2.3.3.3 Remaja Akhir
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa yang ditandai oleh :
a. Minat yang mantap terhadap fungsi-fungsi intelek
b. Ego mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain yang
mempunyai pengalaman baru.
c. Terbentuk identitas seksual yang akan berubah
d. Memuaskan perhatian pada diri sendiri diganti dengan orang lain
e. Adanya dinding pemisah antara dirinya dan masyarakat umum.

2.4 Konsep Dasar Sikap
2.4.1 Pengertian
Menurut Notoatmodjo (2003) Sikap merupakan relasi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respon atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya. Sikap adalah kesiapan merespons yang sifatnya positif atau negatif terhadap suatu objek atau situasi secara konsiten .
2.4.2 Struktur Sikap
Menurut Azwar Saifuddin ( 2003 ) bahwa sikap memiliki tiga komponen yang membentuk stuktur sikap, yang ketiganya saling menunjang, yaitu komponen kognitif, afektif, dan konatif.
1. Komponen kognitif ( cognitive )
Dapat disebut juga komponen perseptual, yang berisi kepercayaan individu. Kepercayaan tersebut berhubungan dengan hal-hal bagaimana individu mempersepsi terhadap objek sikap, dengan apa yang dilihat dan diketahui ( pengetahuan ), pandangan, keyakinan, pikiran, pengalaman pribadi, kebutuhan emosional, dan informasi dari orang lain.
2. Komponen Afektif ( komponen emosional )
Komponen ini menunjuk pada dimensi emosional subjektif individu, terhadap objek sikap, baik yang positif ( rasa senang ) maupun negatif ( rasa tidak senang ). Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai sesuatu yang benar terhadap objek sikap tersebut.
3. Komponen Konatif
Disebut juga komponen perilaku, yaitu komponen sikap yang berkaitan dengan predisposisi atau kecenderungan bertindak terhadap objek sikap yang dihadapinya.
2.4.3 Fungsi Sikap
Menurut Notoatmodjo (2005) dalam bukunya Pendidikan dan Perilaku
Kesehatan, sikap memiliki 5 fungsi berikut :
1. Fungsi instrumental
Fungsi sikap ini dikaitkan dengan alasan praktis atau manfaat, dan menggambarkan keadaan keinginan. Sebagaimana kita maklumi bahwa untuk mencapai suatu tujuan, diperlukan sarana yang disebut sikap. Apabila objek sikap dapat membantu individu mencapai tujuan, individu akan bersikap positif terhadap objek sikap tersebut atau sebaliknya.
2. Fungsi pertahanan ego
Sikap ini diambil individu dalam rangka melindungi diri dari kecemasan atau ancaman harga dirinya.
3. Fungsi nilai ekspresi
Sikap ini mengekspresikan nilai yang ada dalam diri individu. Sistem nilai apa yang ada pada diri individu, dapat dilihat dari sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan terhadap nilai tertentu.
4. Fungsi pengetahuan
Sikap ini membantu individu untuk memahami dunia, yang membawa keteraturan terhadap bermacam-macam informasi yang perlu diasimilasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu memiliki motif untuk ingin tahu, ingin mengerti, dan ingin banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan.
5. Fungsi penyesuaian sosial
Sikap ini membantu individu merasa menjadi bagian dari masyarakat. Dalam hal ini, sikap yang diambil individu tersebut akan dapat menyesuaikan dengan lingkungannya.

2.4.4 Tingkatan Sikap
Sikap memiliki 4 tingkat, dari yang terendah hingga yang tertinggi, yaitu :
1. Menerima ( receiving )
Pada tingkat ini individu ingin dan memperhatikan rangsangan (stimulus) yang diberikan.
2. Merespons ( responding )
Pada tingkat ini, sikap individu dapat memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
3. Menghargai ( valuing )
Pada tingkat ini, sikap individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
4. Bertanggung jawab ( reponsible )
Pada tingkat ini, sikap individu akan bertanggung jawab dan siap menanggung segala risiko atas segala sesuatu yang telah dipilihnya.
2.4.5 Determinan Sikap
Ada 4 hal penting yang menjadi determinan ( faktor tertentu ) sikap individu, yaitu :
1. Faktor fisiologis
Faktor yang penting adalah umur dan kesehatan, yang menentukan sikap individu.
2. Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap
Pengalaman langsung yang dialami individu terhadap objek sikap, berpengaruh terhadap sikap individu terhadap objek sikap tersebut.

3. Faktor kerangka acuan
Kerangka acuan yang tidak sesuai dengan objek sikap, akan menimbulkan sikap yang negatif terhadap objek sikap tersebut.
4. Faktor komunikasi sosial
Informasi yang diterima individu akan dapat menyebabkan perubahan sikap pada diri individu tesebut. ( Azwar, 2003 : 23 ).
2.4.6 Ciri-ciri Sikap
a. Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari ( learnability ) dan dibentuk berdasarkan pengalaman dan latihan sepanjang perkembangan individu dalam hubungan dengan objek.
b. Sikap dapat berubah-ubah dalam situasi yang memenuhi syarat untuk itu sehingga dapat dipelajari.
c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan dengan objek sikap.
d. Sikap dapat tertuju pada satu objek ataupun dapat tertuju pada sekumpulan / banyak objek.
e. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar.
f. Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi sehingga membedakan dengan pengetahuan.
2.4.7 Pembentukan dan Pengubahan Sikap
Faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengubahan sikap
1. Faktor Internal
Faktor internal berasal dari dalam diri individu. Dalam hal ini individu menerima, mengolah, dan memilih segala sesuatu yang datang dari luar, serta menentukan mana yang akan diterima dan mana yang tidak. Hal-hal yang diterima atau tidak berkaitan erat dengan apa yang ada dalam diri individu. Oleh karena itu, faktor individu merupakan faktor penentu pembentukan sikap.
Faktor intern ini menyangkut motif dan sikap yang bekerja dalam diri individu pada saat itu, serta yang mengarahkan minat dan perhatian (faktor psikologis), juga perasaan sakit, lapar, dan haus (faktor fisologis).
2. Faktor Eksternal
Faktor ini berasal dari luar individu, berupa stimulus untuk membentuk dan mengubah sikap. Stimulus tersebut dapat bersifat langsung, misalnya individu dengan kelompok. Dapat juga bersifat tidak langsung, yaitu melalui perantara, seperti : alat komunikasi dan media masa baik elektronik maupun nonelektronik. ( Azwar, 2003 : 23 )
Menurut Azwar ( 2003 ), ada beberapa cara untuk membentuk atau mengubah sikap individu, yaitu :
a) Adopsi
Adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap melalui kejadian yang terjadi berulang dan terus-menerus sehingga lama kelamaan secara bertahap hal tersebut akan diserap oleh individu, dan akan mempengaruhi pembentukan serta perubahan terhadap sikap individu.
b) Diferensiasi
Deferensiasi adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap karena sudah dimilikinya pengetahuan, pengalaman, intelegensi, dan bertambahnya umur. Oleh karena itu, hal-hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri dan lepas dari jenisnya sehingga membentuk sikap tersendiri.
c) Integrasi
Integrasi adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap yang terjadi secara tahap demi tahap, diawali dari macam-macam pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan objek sikap tertentu sehingga pada akhirnya akan terbentuk sikap terhadap objek tersebut.
d) Trauma
Trauma adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap melalui suatu kejadian secara tiba-tiba dan mengejutkan sehingga meninggalkan kesan mendalam dalam diri individu tersebut. Kejadian tersebut akan membentuk atau mengubah sikap individu terhadap kejadian sejenis.
e) Generalisasi
Generalisasi adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap karena pengalaman traumatik pada diri individu terhadap hal tertentu, dapat menimbulkan sikap negatif terhadap semua hal yang sejenis atau sebaliknya.




2.4.8 Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang tentang fenomena sosial.
a. Jawaban setiap item yang menggunakan skala Likert mempunyai tingkatan dari sangat positif sampai dengan sangat negatif.
b. Setiap item diberi sejumlah pilihan respon yang sifatnya tertutup.
c. Banyaknya pilihan respon dalam suatu penelitian sangat beragam. Namun yang paling banyak digunakan adalah 5 pilihan respon. Jika respon terlalu sedikit maka hasilnya terlalu kasar, namun sebaliknya jika respon terlalu banyak responden akan sulit membedakan antara pilihan respon yang satu dengan pilihan respon yang lain.
d. Tingkat pengukuran data dalam skala Likert adalah ordinal
Rensis Likert telah telah mengembangkan sebuah skala untuk mengukur sikap masyarakat yang sekarang terkenal dengan nama skala likert. Skala Likert menggunakan ukuran ordinal, hanya dapat membuat rangking tetapi tidak dapat diketahui berapa kali satu responden lebih baik atau lebih buruk dari responden lainnya di dalam skala. Prosedur dalam membuat skala Likert adalah sebagai berikut :
1. Peneliti mengumpulkan item-item yang cukup banyak, yang relevan dengan masalah yang diteliti yang terdiri dari item yang cukup jelas disukai dan yang tidak disukai.
2. Kemudian item-item tersebut dicoba kepada sekelompok responden yang cukup representative dari populasi yang ingin diteliti.
3. Responden diminta untuk mencek tiap item apakah ia menyenanginya (+) atau tidak meyukainya (-). Responsi tersebut dikumpulkan dan jawaban yang memberikan indikasi menyenangi diberi skor tertinggi. Tidak ada masalah misalnya untuk memberikan angka lima untuk yang tinggi dan skor satu untuk yang terendah atau sebaliknya. Yang penting adalah konsistensi dari arah sikap yang diperlihatkan. Demikian juga apakah jawaban “setuju” atau “tidak seruju” , “disenangi” atau “tidak disenangi”, tergantung dari isi pertanyaan dan isi dari item-item yang disusun.
4. Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing item dari individu tersebut.
5. Responsi dianalisis untuk mengetahui item – item mana yang sangat nyata batasan antara skor tinggi dan skor rendah dalam skala total.
1) Pernyataan Positif
SS = 5
S = 4
RR = 3
TS = 2
STS = 1
2) Pernyataan Negatif
SS = 1
S = 2
RR = 3
TS = 4
STS = 5
Setelah didapatkan hasil dari pengolahan data, selanjutnya untuk mengetahui sikap responden yang positif atau negatif dengan skor T, yaitu :
X - X
T = 50 + 10 [ s ]

Dimana untuk menentukan kategori responden dicari median nilai T (Mdt) dalam kelompok, maka didapatkan :
a. sikap responden favuorable (positif) bila nilai T>Mdt
b. sikap responden unfavuorable (negatif) bila nilai Tkemudian diperoleh skor skala dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh responden pada keseluruhan pernyataan yang ada.
Hasil angka diolah secara tabulasi didapatkan :
X :skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T
s : deviasi standart skor kelompok
X : nilai rata – rata kelompok
T : skor sikap responden ( Azwar, 2003 : 23)

2.5 Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar variable (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak diteliti). (Nursalam,2003 : 40)




















Keterangan:

: Diteliti

: Tidak diteliti


Gambar 2.1 Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang
Dismenorhea dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer

Pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dimana yang meliputi faktor internal adalah usia dan pendidikan. Sedangkan yang meliputi faktor eksternal adalah informasi, lingkungan, sosial budaya, dan pengalaman. Pengetahuan juga mencakup enam tingkatan yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Yang meliputi: Tahu, memahami, aplikasi, sintesis, dan evaluasi. Tetapi hanya tiga tingkatan saja yang diteliti yaitu tingkatan tahu, memahami dan aplikasi.
Pengetahuan mempengaruhi tingkat pengetahuan remaja tentang Dismenorhea yang mana hal-hal yang diteliti adalah pengetahuan Dismenorhea meliputi pengertian, penyebab, tanda gejala, dan penanganan dismenorhea. Pengetahuan remaja tentang dismenorhea mempengaruhi bagaimana sikap remaja dalam mengatasi dismenorhea yaitu dengan sikap yang mungkin dapat mengurangi nyeri dismenorhea. Remaja biasanya mengatasinya dengan cara minum obat penghilang rasa nyeri, minum jamu kunyit asam, kompres hangat pada perut, istirahat atau tidur, dan olahraga atau jalan-jalan.

2.6 Hipotesa
Hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesa yang penulis gunakan dalam proposal penelitian ini adalah hipotesa alternatif atau hipotesa kerja (Ha) yang berbunyi: “Ada Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer ”.
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, jenis yang digunakan adalah survey analitik, dimana peneliti ini berusaha menarik kesimpulan. Penelitian ini adalah penelitian korelasi yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea dengan sikap mengatasi dismenorhea primer di SMPN I Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.
3.2 Besar Populasi, Besar Sample, dan Tekhnik Pengambilan Sample (Sampling)
3.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti. ( Nursalam, 2003 : 40 ). Populasi yang akan digunakan dalam penelitian adalah remaja putri kelas VIII yang berjumlah 66 siswi di SMPN I Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010 yang mengalami nyeri haid.
3.2.2 Sampel
Menurut Nursalam (2003), Sampel yang akan digunakan adalah sebagian dari populasi obyek penelitian melalui sampling. Pengambilan jumlah besarnya sample dengan Total Sampling. Jumlah sampel yang diambil 66 siswi.
3.2.3 Sampling
Dalam penelitian ini menggunakan teknik Total Sampling. Yaitu pengambilan sampel secara keseluruhan dari populasi.
3.3 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian yang memungkinkan, memaksimalkan suatu kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi validitas suatu hasil. Rancangan penelitian sebagai petunjuk peneliti untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan. Rancangan penelitian yang digunakan ini adalah Cross Sectional.
3.4 Variabel penelitian
Menurut Arikunto (2002), variabel adalah obyek peneliti atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas adalah tingkat pengetahuan remaja putri tentang nyeri haid.
2. Variabel terikat adalah sikap penanganan remaja putri terhadap nyeri haid.
3.5 Definisi Operasional
Menurut Hidayat (2003), Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional dan karakteristik yang diamati memungkinkan penelitian untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena. Untuk mempermudah dalam pengukuran, maka variabel yang akan diukur dioperasionalkan atau didefinisikan. Untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel.

Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian
Variabel Definisi Operasional Parameter Instru-
ment Skala Data Kategori
Variable Independent
Tingkat pengetahuan remaja tentang dismenorhea













Variable Dependent
sikap penanganan dismenorhea primer











Segala hal yang diketahui oleh remaja tentang dismenorhea














Sikap adalah respon atau perilaku dalam mengurangi nyeri haid (dismenorhea) pada remaja putri, meliputi :
• Cara farmakologik adalah pemakaian obat-obatan digunakan remaja putri untuk mengatasi nyeri haid (dismenorhea)
• Cara nonfarmakologik adalah
kompres hangat pada perut, istirahat / tidur dan olahraga
Remaja putri dapat menjawab pertanyaan tertutup yang meliputi pengertian, penyebab, tanda gejala, dan penanganan Dismenorhea








1.

responden mampu menerapkan cara-cara mengurangi nyeri haid (dismenorhea) dengan memakai obat – obatan dan kompres hangat pada perut, istirahat/tidur dan olahraga. Kuesioner



















Kuesioner






























Ordinal



















Nomi
Nal (Skala Likert)



























Nilai setiap jawaban Benar=1
• Pengetahuan baik (76-100%)
Nilai jawaban Salah=2
• Pengetahuan cukup (56-<76%)
Tidak menjawab kode 3=
• Pengetahuan kurang (<56%)


Dari jawaban responden dicari nilai T(Mdt) dalam kelompok :
• sikap positif bila T>Mdt
• sikap negatif bila T
1 = sikap positif
2 = sikap negatif







3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.6.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMPN I Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember.
3.6.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada 5 April – 17 April 2010.
3.7 Teknik dan Instrumen Perolehan Data
Menurut Azwar (2003), Kuesioner adalah usaha untuk mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab oleh responden.
3.7.1 Instrumen pengkajian tingkat pengetahuan
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian tingkat pengetahuan ini adalah kuesioner yang diberikan pada responden dengan jumlah soal 15 butir dengan sediaan jawaban benar salah dan responden memilih dengan cara mencontreng (√ ) jawaban yang sudah disediakan.
3.7.2 Instrumen pengkajian sikap
Instrumen yang digunakan untuk pengkajian sikap adalah dengan kuisioner yang diberikan pada responden dengan jumlah pernyataan 10 butir dengan cara mencontreng (√ ) jawaban yang sudah disediakan yaitu SS (untuk jawaban sangat setuju), S (untuk jawaban setuju), RR (untuk jawaban ragu-ragu), TS (untuk jawaban tidak setuju) dan STS (untuk jawaban sangat tidak setuju).
3.7.2.1 Pernyataan Positif
SS = 5
S = 4
RR = 3
TS = 2
STS = 1
3.7.2.2 Pernyataan Negatif
SS = 1
S = 2
RR = 3
TS = 4
STS = 5

3.8 Teknik Pengolahan dan Analisa Data
3.8.1 Teknik Pengolahan Data
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, langkah selanjutnya yaitu melakukan pengolahan data yang meliputi empat langkah, yaitu:
3.8.1.1 Editing
Editing adalah melakukan pengecekan terhadap semua data yang di kumpulkan melalui pembagian kuesioner dengan tujuan mencetak kembali apakah hasilnya sudah sesuai dengan rencana atau tujuan yang akan dicapai.
3.8.1.2 Coding
Coding yaitu memberi tanda atau kode untuk memudahkan pengolahan data, kemudian dilakukan langkah selanjutnya.
3.8.1.3 Scoring
Scoring yaitu memberikan nilai berupa angka pada jawaban pertanyaan tiap kuesioner.
3.8.1.4 Tabulating
Tabulating yaitu menyunsun dan menghitung data hasil coding untuk kemudian disajikan dalam bentuk tabel yang kemudian dianalisa.
3.8.2 Analisa Data
Menurut Arikunto (2002), analisa data pada penelitian inidiperoleh dari hasil pengisian kuesioner oleh responden dengan Analitik.
3.8.2.1 Pengetahuan
Setelah didapatkan hasil dari perolehan data, kemudian masing-masing dari kriteria dijumlahkan dan dilakukan pengolahan data dengan menggunakan rumus :
x
P = — X 100%
y

Keterangan:
P = Prosentase Tingkat Pengetahuan
x = Jumlah responden yang menjawab baik, cukup dan kurang
y = jumlah soal
kemudian dilanjutkan kembali dalam kriteria obyektif sebagai berikut :
Pengetahuan baik : 76 - 100%
Pengetahuan cukup : 56 - <76%
Pengetahuan kurang : <56%
3.8.2.2 Sikap
Setelah didapatkan hasil dari pengolahan data, selanjutnya untuk mengetahui sikap responden yang positif atau negatif dengan skor T, yaitu :
X - X
T = 50 + 10 [ s ]

Dimana untuk menentukan kategori responden dicari median nilai T (Mdt) dalam kelompok, maka didapatkan :
a. sikap responden favuorable (positif) bila nilai T>Mdt
b. sikap responden unfavuorable (negatif) bila nilai Tkemudian diperoleh skor skala dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh responden pada keseluruhan pernyataan yang ada.
Hasil angka diolah secara tabulasi didapatkan :
X :skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T
s : deviasi standart skor kelompok
X : nilai rata – rata kelompok
T : skor sikap responden ( Azwar, 2003 : 23 )
3.8.3 Uji Statistik
Pengolahan data dilakukan secara manual. Data yang diperoleh dari kuisioner dikumpulkan dan dilakukan Coding, kemudian dimasukan pada tabel distribusi frekuensi. Karena jenis data untuk mencari hubungan tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea dengan sikap penanganan dismenorhea primer dengan data ordinal dan nominal, maka uji yang digunakan adalah Uji Chi – Square.
Rumus yang digunakan :
Jumlah baris
fh = X Jumlah kolom
Jumlah semua

Kemudian kita hitung derajat kebebasan untuk Chi – Square
df = ( b-1 ) ( k - 1)
keterangan :
df : derajat kebebasan
b : baris
k : kolom
setelah itu dilakukan pengujian hipotesis dengan Uji Statistik chi-Square dengan rumus :

( fo – fh )²
X² = Σ fh


Keterangan : X² : taraf signifikan yang telah ditetapkan
fo : frekuensi yang diperoleh berdasarkan data
fh : frekuensi yang diharapkan
Dengan taraf signifikan α = 0,05, maka :
a) Ho diterima jika X² hitung < X² tabel, artinya tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
b) Ho ditolak jika X² hitung > X² tabel, artinya ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
c) Selain menggunakan pembanding antara X² hitung dengan X² tabel juga digunakan pengambilan keputusan terhadap hipotesa dengan menggunakan perhitungan angka probabilitas, yaitu :
a. Ada hubungan atau Ho ditolak apabila angka probabilitas α < 0,05
b. Tidak ada hubungan atau Ho diterima apabila angka probabilitas α > 0,05.
Syarat Uji Chi Squer:
1. Sampelnya bebas (independent)
2. Biasanya sampelnya berdata skala nominal atau ordinal yang terbagi dalam beberapa kategori
3. Apabila sampelnya berukuran besar
Menurut Arikunto (2002), kemudian hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, dan dimasukkan dalam kriteria standart penilaian dapat di kategorikan dengan tingkat nyeri haid yaitu tidak nyeri, nyeri ringan, sedang, dan berat dengan kriteria kualitatif.

Contoh Tabel
Tabel 3.3 Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan remaja putri tentang Dismenorhea
No Tingkat Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)
1
2
3 Baik
Cukup
Kurang
Total

Tabel 3.4 Distribusi frekuensi sikap penanganan Dismenorhea primer
No Upaya Penanganan Dismenorhea Primer Frekuensi Persentase
(%)
1
2 Positif
Negatif
Total

Tabel 3.5 Hubungan hasil pengamatan tingkat pengetahuan dengan sikap penanganan Dismenorhea primer
No Tingkat Pengetahuan Upaya Penanganan Dismenorhea Primer Total
Positif
(N) Persentase
(%) Negatif
(N) Persentase
(%) N (%)
1
2
3 Baik
Cukup
Kurang

Total
3.9 Etika Penelitian
Penelitian yang menggunakan objek manusia tidak boleh bertentangan dengan etika agar hak responden dapat dilindungi. Untuk itu perlu adanya ijin dari Direktur Poltekes Yapkesbi Sukabumi, setelah mendapat persetujuan, baru penelitian boleh dilakukan dengan etika sebagai berikut :
3.9.1 Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed Consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden.
3.9.2 Anonymity (Tanpa Nama)
Lembar format pengkajian tidak diisi nama untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek penelitian lembar format pengkajian tersebut hanya diberi kode tertentu oleh peneliti (inisial).
3.9.3 Confidentially (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang dimiliki oleh subjek peneliti dijamin oleh peneliti. ( Hidayat, 2003:76 )
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
Dalam bab ini akan diuraikan mengenai hasil penelitian mengenai Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer Di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010. Pengambilan data dimulai pada tanggal 5 April - 17 April 2010 dengan menggunakan instrument kuesioner dan dengan jumlah sampel 66 responden yang bertempat di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember. Hasil yang disajikan dalam bentuk diagram pie yang telah dikelompokkan sesuai subvariabel meliputi data umum dan data khusus yaitu karakteristik remaja putri kelas VII, tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea, dan sikap penanganan dismenorhea primer. Kemudian dianalisa dengan uji korelasi dan diinterprestasikan sehingga menghasilkan suatu kesimpulan.
4.1.1 Lokasi Penelitian
Gambaran Lokasi Penelitian
SMPN 1 Pakusari adalah satu-satunya SMP Negeri yang terletak di Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember yang berbatasan dengan:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bedadung Kecamatan Pakusari
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Sumber Dandang Kecamatan Pakusari

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Subo Kecamatan Pakusari
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bunder Kecamatan Pakusari
Lokasi SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember dekat dengan jalan raya sehingga mudah dijangkau oleh transportasi umum. Aktifitas sekolah dimulai pada hari Senin sampai Sabtu, dimana pada hari Senin-Kamis kegiatan belajar dimulai pada pukul 06.50-12.30 WIB, sedangkan pada hari Jum’at aktifitas belajar dimulai pukul 06.30-11.00 WIB, dan hari Sabtu dimulai pukul 06.50-11.30 WIB. SMPN 1 Pakusari mempunyai beberapa fasilitas diantaranya; 1 halaman untuk olahraga, 1 lapangan untuk upacara, 1 halaman untuk parkir kendaraan, 1 taman dan 30 ruangan yaitu : 1 ruangan Kepala Sekolah, 1 ruangan guru, 1 ruangan TU, 1 ruangan BP yang biasanya digunakan sebagai tempat untuk memberikan pengarahan dan bimbingan baik tentang kesehatan maupun umum, 1 ruangan UKS, 1 ruangan perpustakaan, 1 ruangan laboratorium, 1 ruang komputer, 1 ruang kantin, dan selebihnya ruangan kelas sebagai tempat proses pembelajaran sehari-hari serta terdapat 1 mushola untuk kegiatan religi sehari- hari.
SMPN 1 Pakusari mempunyai 32 guru, terdiri 1 orang Kepala Sekolah, 1 orang Wakil Kepala Sekolah, 3 orang guru BP, 1 orang Kepala TU, 2 orang guru olahraga, 2 orang guru komputer, 18 sebagai guru tetap dan selebihnya sebagai guru honorer, 1 orang penjaga sekaligus pengurus koperasi dan kantin, dan 1 orang petugas perpustakaan.
4.1.2 Data Umum
Data umum dalam penelitian ini akan menyajikan karakteristik responden berdasarkan usia remaja putri kelas VIII di SMPN 1 Pakusari.
4.1.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Remaja Putri Kelas VIII di SMPN 1 Pakusari.

Sumber : Data primer tanggal 5-17 April 2010

Gambar 4.1 Karakteristik responden berdasarkan usia remaja di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.

Dari Gambar 4.1 dapat diketahui bahwa usia responden remaja putri di SMPN 1 Pakusari adalah responden yang berusia 11 tahun berjumlah 4 orang (6,06%), 12 tahun berjumlah 12 orang (18,18 %), 13 tahun berjumlah 16 orang (24,24 %), 14 tahun berjumlah 19 orang (28,79 %), dan15 tahun berjumlah 15 orang (22,73 %).



4.1.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Orangtua Remaja Putri Kelas VIII di SMPN 1 Pakusari.

Gambar 4.2 Karakteristik responden berdasarkan pendidikan orangtua di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.

Dari gambar 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar tingkat pendidikan orangtua responden remaja putri di SMPN 1 Pakusari berjumlah 10 orang (27,27%) adalah SD, 16 orang (24,24%) tidak sekolah, 13 orang (19,70%) adalah tamatan SMA, 10 orang (15,15%) perguruan tinggi dan 9 orang (13,64%) adalah tamatan SLTP.


4.1.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Orangtua Remaja Putri Kelas VIII di SMPN 1 Pakusari.

Gambar 4.3 Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan orangtua di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.

Dari gambar 4.3 dapat diketahui bahwa sebagian besar pekerjaan orangtua remaja putri di SMPN 1 Pakusari berjumlah 14 orang (21,21%) adalah sebagai buruh tani, 12 orang (18,18%) tidak bekerja, 12 orang (18,18%) petani, 12 orang (18,18%) sebagai PNS, dan 6 orang (9,09%) adalah sebagai buruh.





4.1.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan suku Remaja Putri Kelas VIII di SMPN 1 Pakusari.

Gambar 4.4 Karakteristik responden berdasarkan suku di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.

Dari gambar 4.4 dapat diketahui bahwa remaja putri di SMPN 1 Pakusari berjumlah 33 orang (50%) suku jawa dan 33 orang (50%) suku madura.

4.1.3 Data Khusus
Data khusus dalam penelitian ini akan menyajikan tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea dan sikap penanganan dismenorhea primer Di SMPN 1 Pakusari.

4.1.3.1 Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Di SMPN 1 Pakusari

Sumber : Data primer tanggal 5-17 April 2010
Gambar 4.5 Responden berdasarkan tingkat pengetahuan remaja putri di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.

Dari gambar 4.5 dapat diketahui bahwa dari 66 responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik 20 orang (30,3%). Dan mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan cukup berjumlah 30 orang (45,45%). Sedangkan jumlah responden yang mempunyai tingkat pengetahuan kurang yaitu 16 orang (24,24%)





4.1.3.2 Sikap Penanganan Dismenorhea Primer Remaja Putri Kelas VIII Di SMPN 1 Pakusari

Sumber : Data primer tanggal 5-17 April 20

Gambar 4.6 Responden berdasarkan sikap penanganan Dismenorhea primer remaja putri kelas VIII di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember Tahun 2010.

Dari gambar 4.6 dapat diketahui bahwa responden yang bersikap positif berjumlah 29 orang (43,9%) dan responden yang bersikap negative sebanyak 37 orang (66,1%).






4.1.4 Analisa Hasil Penelitian
Ho : Tidak Ada Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer.
Kriteria :
a) Ho diterima jika X² hitung < X² tabel, artinya tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
b) Ho ditolak jika X² hitung > X² tabel, artinya ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
c) Selain menggunakan pembanding antara X² hitung dengan X² tabel juga digunakan pengambilan keputusan terhadap hipotesa dengan menggunakan perhitungan angka probabilitas, yaitu :
a. Ada hubungan atau Ho ditolak apabila angka probabilitas α < 0,05
b. Tidak ada hubungan atau Ho diterima apabila angka probabilitas α > 0,05.
Tahap Perhitungan :
a) Untuk mencari X² tabel, langkah pertama yaitu mencari dk :
dk = (b-1) (k-1)
= (3-1) (2-1)
= 2
Diketahui dk = 2
Taraf signifikansi = 5%
Jadi X² tabel = 5,591

b) Mencari X² hitung :
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Tabulasi Silang Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer di SMPN 1 Pakusari.

No Sikap Penanganan

Tingkat
Pengetahuan
Positif
Negatif Jumlah (%)
N (%) N (%)
1 Baik 14 21,21 6 9,09 20 30,3
2 Cukup 7 10,6 23 34,84 30 45,5
3 Kurang 8 12,12 8 12,12 16 24,2
Total 29 43,9 37 56,1 66 100
Uji Chi Squere
= 0,004 X²Hitung = 10,91
= 0,05
db = 2 X²Tabel = 5,591
Sumber : Tabulasi silang data primer tabel 4.1 tanggal 19 April 2010
Dari tabel 4.1 diketahui bahwa hasil dari tabulasi silang menunjukkan Uji Chi Squere yang dilakukan dengan α=0,05, db=2 didapatkan hasil X² hitung = 10,91, value = 0,004 dan X² table = 5,591.
Chi-square (X2)
( fo – fh )²
X² = Σ fh

Diketahui fo sel a = 14
f o sel b = 6
fo sel c = 7
fo sel d = 23
fo sel e = 8
fo sel f = 8
∑ baris
Fh = x ∑ kolom
∑ semua


20
Fh sel a = x 29 = 8,78
66

20
Fh sel b = x 37 = 11,21
66


30
Fh sel c = x 29 = 13,18
66

30
Fh sel d = x 37 = 16,81
66

16
Fh sel e = x 29 = 7,03
66

16
Fh sel f = x 37 = 8,96
66

( f0 − fh)2
X2 = ∑
fh

X² = (14–8,78)² + (6-11,21)² + (7-13,18)² + (23-16,81)² + 8 11,21 13,18 16,81

(8-7,03)² + (8-8,96)²
7,03 8,96

= (3,10) + (2,42) + (2,89) + (2,27) + (0,13) + (0,10)

X² = 10,91



Hasil analisa uji chi squer secara manual dan dengan bantuan komputer SPSS didapatkan X² hitung > X² table dan nilai α < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya terdapat Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer Di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember pada bulan April 2010.

4.2 Pembahasan
Setelah dilakukan pengumpulan data dan tabulasi silang, selanjutnya akan dilakukan pembahasan mengenai Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenorhea Dengan Sikap Penanaganan Dismenorhea Primer serta melakukan pembahasan tentang hubungan antara kedua variabel di atas.
4.2.1 Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Di SMPN 1 Pakusari.
Hasil analisa dari penelitian yang telah di bahas menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri kelas VIII mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup dengan jumlah 30 responden (45,45 %). Yang mempengaruhi cukupnya tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea adalah usia. Semakin bertambahnya usia, maka pengetahuan yang dimiliki semakin bertambah. Usia juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, dengan bertambahnya usia maka proses berfikir seseorang semakin berkembang, sehingga akan lebih mudah memperoleh pengetahuan ( Notoatmodjo, 2005 ). Terbukti dengan jumlah responden dengan pengetahuan baik, sebagian besar berumur lebih dari 14 tahun.
Pendidikan orangtua juga dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang misalnya seseorang yang mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup akan lebih mudah untuk menerima arahan atau informasi dan mereka sering sedikit mau atau sedikit meyakini akan pentingnya pengetahuan khususnya tentang dismenorhea. Terbukti dari responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik (30,3%) berasal dari orang tua dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Selain itu pekerjaan orangtua juga mempengaruhi pengetahuan remaja dari segi pendapatan (ekonomi) dimana semakin tinggi tingkat pendapatan maka pendidikan akan terjamin, dengan demikian pengetahuan dapat bertambah.Terbukti dari responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik berasal dari orang tua dengan tingkat social yang baik. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2007).
Yang mempengaruhi kurangnya tingkat pengetahuan remaja tentang dismenorhea adalah karena responden masih menganggap bahwa Dismenorhea merupakan hal yang biasa terjadi saat menstruasi. Selain itu banyak remaja yang tidak mau mencari informasi tentang Dismenorhea dari Internet, Televisi, Surat kabar, majalah dan lain sebagainya.
Pada remaja beranggapan bahwa Dismenorhea bukanlah hal yang berbahaya melainkan hal yang normal dialami oleh wanita saat menstruasi. Pengalaman itu sendiri merupakan sumber pengetahuan, suatu cara untuk kebenaran pengetahuan, hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang telah diperoleh dalam memecahkan masalah yang telah dihadapi pada masa lalu (Notoatmodjo, 2000).
4.2.2 Sikap Penanganan Dismenorhea Primer Remaja Putri Kelas VIII Di SMPN 1 Pakusari
Hasil analisa yang didapat dari pengolahan data diketahui bahwa sebagian besar responden melakukan sikap yang negatif terhadap penanganan Dismenorhea primer selama remaja menstruasi dengan jumlah responden 37 orang (66,1%).
Sebagian besar kebiasaan yang dilakukan oleh remaja putri di SMPN 1 Pakusari pada saat menstruasi adalah melakukan pemijatan keras pada daerah perut bawah atau daerah punggung, minum obat analgesik untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri Dismenorhea secara berlebihan, dan minum jamu tradisional seperti jamu kunyit asam selama mereka menstruasi dan sedang mengalami Dismenorhea.
Tetapi tidak sedikit pula yang melakukan sikap yang positif selama remaja menstruasi dengan jumlah responden 29 orang (43,9 %), yaitu dengan melakukan kegiatan olahraga ringan seperti jalan-jalan, istirahat / tidur, minum air putih hangat, melakukan kompres hangat pada perut dan berusaha mencari informasi dari orang tua atau teman sehingga dapat mempersiapkan diri selama menstruasi. Mengompres perut bagian bawah saat dismenorhea dapat mengurangi nyeri, hal itu disebabkan paparan panas yng mengakibatkan dilatasi pembuluh darah selama mengkompres( Abdillah, 2005 ).
Menurut Notoatmodjo (2002), sosial budaya dan lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungan dengan orang lain karena hubungan ini seseorang mengalami proses belajar dan memperoleh contoh dari lingkungan dalam melakukan sikap penanganan Dismenorhea primer yang dilakukan selama Dismenorhea sehari-hari saat menstruasi.

4.2.3 Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer
Berdasarkan hasil analisa data tentang Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang Dismenorhea dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer terdapat hubungan antara variabel dependent dan variabel independent di atas. Pernyataan ini diperoleh dari hasil uji korelasi Chi Squere. Dengan α = 0,05, db=2 dan dengan kriteria penilaian adalah Ho ditolak apabila uji statistik X²hitung > X²tabel yang berarti terdapat hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Hasil uji Statistik X²hitung = 10,91 > X²tabel=5,591, Berarti Ho ditolak dan Ha diterima, Maka terdapat hubungan antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer Di SMPN 1 Pakusari Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember.
Dari hasil penelitian terdapat kesesuaian antara teori yang dikemukakan dengan hasil uji korelasi yang dilakukan pada 66 responden. Berdasarkan teori bahwa tingkat pengetahuan mempengaruhi sikap terhadap individu, dimana semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, semakin baik atau semakin positif dalam bersikap.
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea
Sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan cukup (45,45%), dan selebihnya adalah tingkat pengetahuan baik (30,3%) dan kurang (24,24%).
5.1.2 Sikap Penanganan Dismenorhea Primer
Sikap penanganan dismenorhea primer di SMPN 1 Pakusari mayoritas bersikap negative (66,1%) dan sebagian lagi bersikap positif (43,9%)
5.1.3 Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII Tentang Dismenorhea Dengan Sikap Penanganan Dismenorhea Primer
Setelah dilakukan uji korelasi Chi Squere menunjukkan Ho ditolak sehingga dapat dibuktikan secara empiris bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan remaja putri kelas VIII tentang dismenorhea dengan sikap penanganan dismenorhea primer di SMPN 1 Pakusari Kabupaten Jember.





58
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut:
5.2.1 Bagi SMPN 1 Pakusari
Bagi SMPN 1 Pakusari khususnya bagian unit perpustakaan bisa menambah fasilitas buku-buku tentang kesehatan, juga tambahan materi tentang dismenorhea saat pelajaran Biologi, dan bila perlu dapat diadakan program Health Education kepada siswi di SMPN 1 Pakusari yang dapat bekerja sama dengan petugas kesehatan.
5.2.2 Bagi Insitusi
Diharapkan hasil penelitian ini dapat di jadikan sebagai pertimbangan dan pertambahan sumber pustaka dalam pengembangan mata kuliah kesehatan reproduksi wanita.
5.2.3 Bagi Remaja
Oleh karena tingkat remaja putri kelas VIII mempunyai pengetahuan cukup, disarankan remaja putri yang sudah menstruasi khususnya yang selama menstruasi mengalami nyeri haid (Dismenorhea) sebaiknya menambah lagi pengetahuan dengan cara mencari informasi seputar kesehatan organ kewanitaan seperti Dismenorhea melalui media masa atau media elektronik atau juga melaui situs-situs internet dan sering bertanya pada orang tua (ibu) atau orang lain yang dianggap biasa memberikan penjelasan mengenai masalah kewanitaan.
5.2.4 Bagi Penelitian Selanjutnya
Dalam penelitian selanjutnya diharapkan Karya Tulis ini dapat menjadi panduan dan tambahan sumber pustaka untuk penelitian yang akan datang.


1 komentar:

ahmad maulana mengatakan...

asslmkm bang.. kalau boleh tau,pustakanya dpat dari buku apa aja?? judul buku arikunto sama notoatmodjo itu apa??

Poskan Komentar

Free Sms Online

INFO MEDIS

My Acount Virtapay.com

http://www.virtapay.com/r/qun